Jumat, 26 Mei 2017

Membuat Plastisin Sendiri


Saya termasuk emak-emak yang nggak suka beli plastisin. Karna terkadang, plastisin yang dibeli dengan harga murah biasanya teksturnya keras dan nggak bisa bertahan lama. Kalau yang mahal nggak usah ditanya kenapa nggak mau beli. Ya emang kalau yang mahal-mahal itu nggak usah dibeli hahahah...#prinsip

Maka dari itu, saya lebih suka buat plastisin sendiri ketimbang beli. Selain bahannya gampang, teksturnya juga lembut. Tergantung kitanya maunya gimana. Mau dibikin keras boleh, mau dibikin lembut juga boleh. Selain itu juga, bikin plastisin ini bisa buat sekalian olah raga tangan. Iya kan, ngebentuknya butuh gerakin tangan.

Oke lah...langsung aja yuuk...siapin bahannya dulu ya. Trus sebaiknya tempat untuk membuatnya juga dialasi kertas koran atau plastik. Biar plastisinnya nggak nempel di lantai langsung. Karena kalau nempel ke lantai langsung, bisa bikin licin.

Alat dan Bahan:

  • Kertas koran untuk alas duduk anak-anak
  • baskom atau mangkok plastik sedang
  • Tepung terigu 1/4 kg
  • Minyak goreng 2 sendok
  • garam 1/2 bungkus kecil (kalau pakai refina hasilnya lebih halus, kalau garam lain kadang masih berasa kasar)
  • pewarna makanan ( merah, kuning, biru) Atau sesuai keinginan. kalau pengen warna lain nanti bisa dicampur. Bisa juga pakai perisa makanan yang plus pewarna itu lho. Kalo hijau baunya melon, kalau merah strowberry dll.
  • 200ml air.


Cara membuat:

1. Campur garam dan tepung dalam baskom. Aduk dengan tangan sampai bercampur rata. Minta anak untuk mencampurnya.

2. Masukkan air sedikit-sedikit sambil diaduk agar tidak terlalu encer. Minta anak yang melakukannya.

3. Aduk terus sampai tercampur seperti nguleni adonan donat.

Jika terlalu lembek tambahkan tepung, jika terlalu kering tambahkan air. Sesuai keinginan aja.

4. Jika adonan sudah mulai terbentuk seperti plastisin, beri minyak goreng. Aduk terus sampai minyaknya tercampur rata dan adonan tidak lengket di tangan.

5. Bagi adonan plastisin menjadi beberapa bagian, dan beri pewarna.

Agar lebih berwarna warni, pewarna bisa dicampur-campur sesuai keinginan. Hati-hati jika menggunakan pewarna yang campur perisa. Karna warnanya menggoda dan bau nya harum kayak buah-buahan. Biasanya anak-anak pengen makan plstisin buatannya. Aman sih, tapi kan udah terkontaminasi sama tangan anak-anak. Yang kadang bercereran di mana-mana.

  Hasilnya Seperti Ini



Perhatian!

  • Membuat plastisin ini sepertinya nggak cocok buat anak-anak di bawah usia 3 tahun. 
  • Disarankan juga, saat melakukan kegiatan ini emak-emak sedang tidak stres mikirin rumah yang berantakan.
  • Jika hasilnya tidak sesuai harapan, emak-emak tidak usah kecewa. Yang penting kan bukan hasilnya, tapi proses bikinnya itu yang bisa membuat anak-anak bahagia. Saya pun kadang berhasil kadang nggak. Karena anak-anak pengen berkreasi sesuai keinginan mereka masing-masing.
Selamat mencoba...semoga berhasil!

Baca Ini Juga:


Kamis, 11 Mei 2017

Nggak Mau Nyanyi Garuda Pancasila


Keluarga suami termasuk keluarga baik-baik. Maksudnya baik-baik itu, segala tindak tanduk semua harus sopan. Sopan ngomong sama orang yang lebih tua, nggak boleh ngomong kasar, nggak boleh mengumpat apalagi berkata-kata jorok. Makanya, meskipun saya nggak tinggal dekat dengan keluarga ayahnya, saya tetap ngajari anak untuk ngomong sopan. Biar kalau pulang kampung, omongannya tetep kalem kayak emaknya( ehem...). Kan nggak lucu ya, kalau pas pulang kampung anakku ngomong eloh eloh guweh sama mbah-mbahnya. Malu dong sayanya.... meskipun tinggalnya di kota tetap perilaku harus desa#ini prinsip. Apalagi kalau sudah menyangkut urusan kesopanan. Warga desa tempat saya dan suami dilahirkan kayaknya udah top kesopanannya. Jadi nggak perlu dihilangkan dari dalam diri ini(uhuk)

Itu sebabnya, dari keciiiiiil banget, bocah udah kuajari ngomong sopan. Kalau ada anak yang main ke rumah, trus ngomong jorok, kasar, biasanya saya tegur. Apalagi kalau ngomongnya pakai adegan lirikan mata tajam sambil mulutnya monyong-monyong kayak nenek lampir, mirip adegan-adegan sinetron ibu tiri jahat, pasti sudah ku semprit.

Biasanya, anak-anak itu sering banget niru adegan di sinetron-sinetron yang ngomongnya jahat gitu. Tapi nggak semua anak juga sih, ada anak yang ngomongnya masih lempeng aja. Saya paling sebel kalau ada anak kecil yang ngomongnya pakai eloh eloh gueh. Bukannya kenapa kenapa sih, kadang ngomong eloh guehnya itu lho....lebayun banget. Jadinya kesannya gimanaaaa gitu...

Nah, waktu si kakak masih TK, ceritanya dia disuruh nyanyi sama ibu gurunya di depan kelas. dengan bangga dan berani, doi berdiri di depan teman-temannya. Lalu ibu gurunya ngasih aba-aba untuk nyanyi Garuda Pancasila. Lirik lagunya kebetulan dia sudah hafal. Tapi saat sampai lirik, Patriot proklamasi, Sedia berkorban untukmu... 

Kemudian dia diem. Coba dibantuin ibu gurunya, tapi tetep dia nggak mau lanjutin nyanyi. Sampai kemudian ibu gurunya nyamperin trus nanya,

"Shasha lupa liriknya, ya?" kata Bu gurunya.

Dia menggeleng.

"Trus, kenapa nggak lanjutin nyanyinya?"

"Kata Bunda, aku nggak boleh ngomong dasar, nggak sopan!" Bocahnya menunduk lesu.

Spontan ibu gurunya tertawa. waktu cerita ke saya pun gurunya masih senyum-senyum. Dia tetep nggak mau nyanyi Garuda Pancasila sebelum saya bilang boleh ngomong dasar. Karena waktu itu, memang anak-anak lagi seneng ngumpat dengan kata " Dasar ". Jadi dia kularang untuk ikut-ikutan.

Pernah saya lihat anak-anak kecil lagi main, trus diantara mereka ada yang ngomong, "Dasar lo...! Bego!" Aih....kedengarannya jadi gimanaaaaa gitu lho...Anak-anak kecil seumuran anak TK ngomongnya seperti itu.

Sampai sekarang pun saya juga nggak berani ngomong kasar seperti itu. Sekesel-keselnya saya, nggak berani ngucapin kalimat itu. Takut tiba-tiba berubah jadi batu. Apalagi, kalau udah keluar pakai kerudung. Ngomong bego, goblok, tolol, dan sebangsanya itu kok kayak nggak pernah makan kurma ya#eh

Sampai sekarang anakku masih ragu-ragu kalau mau nyanyi Garuda Pancasila. Apalagi kalau pas mau ngucapin, Pancasila dasar negara.... Pasti dia mikir-mikir dulu. Atau kalau nggak kepepet banget, ya nggak mau nyanyi lagu Garuda Pancasila. 





Selasa, 18 April 2017

[ Kegiatan Anak ] Bikin Cap Yuuuk...!


Prinsip saya kalau lagi main bareng anak-anak itu yang penting murah, bisa bermain, bahagia, bisa belajar, dan satu lagii....nggak bikin rumah berantakan Hahahaha...

Tapi berhubung saya lagi penasaran banget bikin gambar dengan nge cap, jadinya prinsip yang saya pegang selama ini runtuh juga. Akhirnya, saya keluarin semua cat air yang selama ini saya timang-timang sayang tiap mau dipakai. Padahal, harganya cuma 25rb, gimana kalau harganya ratusan ribu yak? Emang pelit sama perhitungan itu bedanya setipis kulit bawang#hiks

Membuat Gambar Dengan Cap

Ide menggambar dengan teknik cap ini saya baca di buku "Rumah Main Anak 2". Di situ sebenernya, nge cap nya pakai tutup botol trus di tempel sama styrifoam (bener gak ya tulisannya?) trus dikasih cat air. Styriofoam nya dibentuk macam-macam benda. Benar-benar mirip kayak cap buat kantor.

Nah, berhubung saya nggak mau ribet, jadi bentuk benda yang saya bikin nggak banyak. Pokoknya, asal bisa buat bikin rumah dan lingkungannya udah cukup.

Bahan:

Cat air
Styriofoam
kuas
kertas gambar
cutter
gunting

Langkah Bermain:

  1. Buatlah bentuk benda yang diinginkan dengan styriofoam, lagu potong dengan cutter
  2. Olesi benda itu dengan cat air
  3. Tempel dan tekan di atas kertas
  4. Biarkan anak berkreasi sesukanya, terserah dia mau gambar apa:D

Hasilnya seperti ini:

Olesi Styriofoam dengan cat air lalu tempel di kertas


Nekannya sampai pake kaki:D


Hasil akhirnya


Ini gambarnya murni pakai cap ya, nggak pakai kuas. Styriofoam nya saya bentuk bunga, panjang, segitiga, persegi, daun, bulat-bulat. Trus kalau cat air nggak ada, bisa kok diganti pakai pewarna makanan. Cuma kalau pewarna makanan, warnanya jadi kurang bagus. Karena biasanya kan encer gitu kalau ditambah air. Jadi warnanya pecah-pecah. Emang lebih bagus pakai cat air.

Hasilnya lumayan lah...buat anak anteng bentar tanpa gadget:). Bisa bermain juga. Lebih baik ketika bermain seperti ini didampingi. Selain bisa ngobrol, kita juga bisa tau, karakter anak kita itu sepeerti apa. Yang nggak sabaran pasti keliatan:)  
Selamat mencoba...

Senin, 17 April 2017

Sepi...


Dari judulnya udah kelihatan lebay#hiks. Padahal sebenernya cuma mau cerita tentang kucing. Di rumah, ada induk kucing yang melahirkan anaknya. Awalnya anaknya empat, tapi karena yang lainnya mati, jadi tinggallah hanya satu kucing yang tersisa. Anak kucing satu itu sekarang lumayan sudah gede. Udah bisa mainan sendiri, lari-larian keluar. Trus yang paling lucu itu, dia suka banget godain cimol. Kucing kakak yang sudah beranjak dewasa. Lucunya, si cimol ini malah ketakutan kalau diajak main-mainnan sama kucing kecil. Dan biasanya cimol ngumpet-ngumpet di bawah sofa. Hahahahah

Nah, kemarin kucing kecil itu tiba-tiba raib entah ke mana. Biasanya, dia nangkring di bawah mobil trus ikut mobil jalan. Ntar, kalau mobilnya udah berhenti biasanya dia turun sambil ngulet-ngulet. Sayangnya, sampai sekarang nggak nongol juga di kolong mobil. Dicari ke mana- mana juga nggak ketemu.

Di rumah, induknya sudah nyariin, tapi tetap nggak nongol juga anaknya. Semalam, si kakak ngintip induknya tidur di kursi luar. Kata kakak, "Kasihan ya bun, induknya jadi sepi nggak ada yang gangguin tidur,"

Biasanya, anaknya itu emang selalu ngerusuh kalau induknya lagi tidur. Entah ekornya dimainin, nenennya di dusel-dusel, atau bahkan mukanya sampai digigit-gigit. Dan biasanya, induknya langsung pura-pura marah. Lucu deh...

Tapi....suasananya bukan lucu lagi ketika saya membayangkan induk kucing itu adalah saya. Saat anak-anak ada, rasanya sekitar riuh banget. Digeret ke sana kemari, dipanggilin tiada henti, mau nyuap ada yang minta dicebokin, mau merem ada yang nyolokin mata sama kuping.

Rasanya....ruaaaameeee terus....dan biasanya bikin kesel...

Dan ketika mereka tidak ada di rumah, suasana mendadak sepi, nggak ada teriakan, nggak ada rengekan, nggak ada yang minta dicebokin saat mau makan. Kalau sejam dua jam sih, masih seneng. Tapi kalau seharian nggak denger suara mereka berdua, rumah mendadak jadi senyap. Trus kangen mereka berdua berantem hehehe...Berasa banget kalau mereka lagi sakit. Rumah sepertinya jadi suram.

Apalagi jika  mereka sudah gede nanti, dan mereka sudah jarang pulang lagi...Mungkin, yang tersisa hanyalah satu kata.....SEPI......

Jumat, 14 April 2017

[ Kegiatan Anak ] Mengelompokkan Koin



Hari ini, ceritanya ayahnya pergi ada acara ke Belitung. Karena libur panjang dan nggak ada ayahnya, anak-anak udah mewanti-wanti untuk main seharian. Pokoknya, saya nggak boleh marah-marah, nggak boleh masak lama-lama, nggak boleh ngurusin cucian. Harus full ngurusin mereka, begitu permintaannya bocah-bocah.

Akhirnya, saya buatkan agenda bermain untuk mereka. Hari jumat rencananya mau bikin percobaan gunung meletus. Tapi karena tukang kue tutup, jadinya males juga mau nyari bahan-bahannya ke tempat lain (bahan-bahannya semua ada di toko kue ). Akhirnya, saya agendakan mereka untuuuuuk....ngelompokin koin. Alias mbuka celengan hahahaha...Iya, emaknya lagi butuh recehan buat menyambung nyawa. Jadi kayaknya, kegiatan ngelompokin koin ini tepat untuk bermain bersama:D

Awalnya, kakaknya antusias banget liat uang celengan dibuka. Dia langsung semangat ngumpulin uangnya. Adeknya sih, ikutan antusias. Tapi trus males saat dia bingung beda-bedain uang koinnya.


Tuh, liatin...baca uang koinnya aja lama banget.

Kegiatan mengelompokkan uang koin ini ternyata bisa memakan waktu panjang lho...Buat anak-anak yang nggak terbiasa pegang uang, bukanlah hal yang mudah. Dan berpotensi membuat anak jadi bosan. Apalagi kalau sudah ada benih-benih ngantuk melanda. Bukannya makin happy tapi malah mumet.

Adeknya malah udah eneg duluan ngeliat uang koin segunung. Mungkin emang belum cocok sama umurnya yang masih 4 tahun. Atau memang, karena uang koinnya banyak banget jadi dia nya sudah langsung patah semangat duluan.

Ngomongin masalah patah semangat, kakaknya itu termassuk anak yang mudah sekali menyerah, bosan, dan malesan. Tapi waktu dikasih kegiatan ngelompokin koin ini, dia ternyata anteng. Seenggaknya sedikit lupa sama gangguin adeknya:D

Nah, setelah uang koin dikelompokkan, trus disusun sepuluh-sepuluh. Pas nyusun ini, kakak sama adeknya mulai rebutan. Anak-anak seneng kali ya, kalau disuruh nyusun-nyusun gitu. Nah, pas nyusunnya itu kan harus dihitung, ini ternyata bisa buat latihan adeknya berhitung lho. Bolak-balik ngitung satu sampai sepuluh. Trus teriak-teriak sambil bilang,"Aku bikin menara....."

Nggak rugi lah ya, emaknya ngasih kegiatan kayak gini hahaha...

Tapi mungkin, lain kali kalau nyuruh anak buat ngelompokin koin lagi, koinnya harus di cuci dulu. Karena koin-koin itu, meskipun nggak kelihatan ternyata kalau megangnya banyak, tangan juga kotor. Trus bau logamnya itu nggak nguati.

Selesai disusun, giliran tugas emaknya ngiket koin pakai solasi. Dan ternyataaaa....ngiket koin pakai solasi ini bukan pekerjaan yang sangat mudah. Susahnyaaaa....atau karena memang saya nggak terbiasa ya...? Bener-bener menguras tenaga dan pikiran#lebay. Mata langsung kayak liat tawon menari-nari. Kepala juga kliyengan nggak jelas. Abis itu trus berasa lapar, padahal belum masak:D. Trus ujung-ujungnya jadi gemeteran. Jadi ibu-ibu, kalau mau ngasih kegiatan mengelompokkan koin ini sebaiknya masak dulu. Karena kegiatan ini ternyata juga berpotensi bikin lapar.

Selesai disolasi, yang memakan waktu sampai tiga jam dari dimulai ngelompokin sampai nyusun trus disolasi, bisa disambi ngobrol lho...ngobrol bareng anak. Bercerita tentang apa saja. Temannya di sekolah, film, buku, cerita-cerita seru dan lucu. Jadi kalau mau ngasih kegiatan ini ke anak, emaknya harus siap dirusuhi waktunya. Dan usahakan, anak-anak yang belum mengerti uang koin sebaiknya tidak mendekat, takut dimakan.

Selesai ngelompokin koin, saya baru tahu. Ternyata, kegiatan yang sangat sepele itu bisa membuat anak belajar. Belajar sabar, belajar teliti, belajar berhitung, bisa kepoin anak sambil ngobrol.

Jadi...., bolehlah kegiatan ini dilakukan tiap minggu. Selain bisa mendayagunakan uang recehan agar tidak berceceran juga bisa buat anak melupakan pergi jalan-jalan kalau lagi libur. Masalahnyaaa....celengan siapa yang mau dibuka tiap minggu???





Minggu, 09 April 2017

Shabira dan Ceritanya


Udah lama sekali nggak cerita-cerita tentang Shabira. Shabira sekarang udah gede, bawel, banyak cerita, pinter ngomong,. Kalau cerita udah runut banget. Umurnya sekarang sudah 4 thn 5 bln. Teringat dulu waktu umurnya masih 2 tahun, ngomongnya susah. Kalau dicampurun sama anak seusianya, ia paling pendiem. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sedikit banget, dan banyak yang nggak jelas.

Tapi setelah menginjak usia 3 tahun, seolah-olah kayak balas dendam. Yang tadinya pendiem jadi bawel banget. Padahal dulu sempet mau diikutin terapi bicara segala. Alhamdulillah YA ALLAH...



Sekarang...kadang saya sampe hampir mau nangis ngadepin dia ngomomg terus. Apalagi kalau ada tulisan yang mau ditulis, trus udah ngedraft di kepala tiba-tiba buyar gara-gara ditanyain sama dia.

Ayahnya pun merasakan hal yang sama, tiap kali pulang kerja, pasti bocahnya nggak mau diem. Ngomong....terus. Trus kalau nanya, trus nggak dijawab, biasanya masih ngeyel nanya. Nah, kalau dijawab malah tambah panjang pertanyaannya.

Kayak suatu pagi, waktu pulang sekolah, dia nanya, "Bun, emang kucing itu mencuri makanan ya?"

Karena saya nggak mau ngomong negatif, sayapun jawab,"Nggak lah...kucing itu nggak mencuri makanan. Hanya mengambil barang milik orang lain."

Siangnya, waktu mau ganti baju, saya nemu uang koin banyak banget di kantong bajunya, trus ku tanya,"kamu mencuri ya?"

Shabira langsung jawab,"Nggak kok...aku nggak mencuri. Aku hanya mengambil uang koin bunda di mobil.."Jawabnya dengan muka polos tanpa dosa.

Saya yang dengar jawaban itu langsung melongo takjub. Pikirku, dia ingat aja ya, perkataanku. Padahal, jawaban yang saya tujukan padanya itu kan, nggak serius. Eh...malah terus diingat sampai sekarang.

Makanya, sekarang ini kalau mau ngomong pun harus hati-hati. Nggak boleh asal nyeplos aja. Memang kadang lucu, tapi kadang ada juga kata-kata yang dia ucapkan itu tidak ssewajarnya ditujukan ke orang lain yang lebih besar atau orang tua.

Kayak beberapa waktu yang lalu itu, shabira ke dokter umum buat periksa flunya. Sang dokter pun dengan seksama memeriksa. Sambil nyenterin telinganya, pak dokter bilang,"Ih...kupingnya kotor banget, Kayaknya dia budek" Begitu kata sang dokter. Sampai rumah, saya ceritain lah kegiatan ke dokter hari itu sama suami. Saya bilang kalau Shabira telinganya kotor, dan kemungkinan juga agak budek.

Eh, kemarin waktu dia panggil-panggil saya dan nggak langsung nyaut, dia nya langsung bilang,    
"Ih...bunda budek nih..." Ngomong dengen suara kenceng.

Saya langsung melotot, tapi trus nggak jadi marah. Karena ingat kata-kata dokter itu. Dia nya juga belum tahu kalau ngomong budek ke orang tua itu termasuk hal yang nggak boleh dilakukan. hehehe...setelah kubilangin baru dia mengerti.

Untung aja nggak denger orang banyak. Kalau kedengeran orang kan, dikira emaknya ngajarin nggak genah.
  

Sabtu, 08 April 2017

Pos Sosial Dalam Anggaran Keuangan


Dulu...dulu banget, saat saya dan suami masih merintis keluarga baru, kalau ada yang datang mintain sumbangan atau duit apalah apalah ke rumah itu males banget. Apalagi kalau mintainnya pas mendekati akhir bulan menuju tanggal tua. Rasanya pengen banting panci. Memang, terkadang dilema juga. Mau diiyain, persediaan duit udah mulai menipis, tapi kalau nggak ngasih, ya mau nggak mau. Dan ujung-ujungnya jadi nggak ikhas. Padahal, memberi tanpa keikhlasan itu sama saja tidak memberi.


Lalu, suami punya inisiatif untuk memberikan pos sosial di anggaran keuangan kami. Pos sosial itu, berisi sejumlah uang yang memang sengaja dianggarkan untuk kegiatan sosial. Misalnya, nengokin orang sakit, nengokin bayi, untuk sumbangan, untuk acara perayaan-perayaan kalau pas agustusan, infak, dsb. Yang sifatnya untuk orang lain.

Dari situ, kehidupan keuangan jadi begitu membaik, alias sehat, alias nggak ngedumel lagi kalau dimintain sumbangan.

Pos sosial, sengaja kami hitung pakai persenan. Menurut sama gaji suami tiap bulan. Kalau gaji suami lagi banyak, ya uang sosial itu banyak juga. Tapi, kalau gaji suami pas sedikit, ya hasilnya sedikit. Lumayan lah...uang buat nengokin orang sakit nggak harus nyatut uang sayur hahahha

Kadang-kadang, kalau pas uang sosial muncul dengan jumlah nominal yang lebih banyak dari saku, setan langsung nari balet di depan mata. Ngerusuh nyuruh hati iri. Tapi tak kuat-kuatin #hiks. Belajar memberi dan berbagi disertai keikhlasan. Justru di situlah letak seninya dalam memberi. Setan menggoda hati untuk tidak ikhlas, dan hati bertahan untuk ikhlas. Jadi perang batin. Tapi tetap yang menang biasanya yang ikhlas. Karena apa...?? karena emang duit itu kan sudah diniatin untuk orang lain. Jadi lebih mudah juga nendang setannya.


Tapi kadang-kadang, uang yang ada di pos sosial itu masih nyisa banyak, padahal udah mendekati gajian. Kalau kejadian seperti itu, biasanya saya tetep habisin sampai habis. Saya nggak mau berurusan sama tindak pidana korupsi keluarga ya...Uang itu sudah diamanahkan untuk dikasih ke orang lain, jadi ya harus amanah dong...

Trus kalau kurang gimana?

Kadang-kadang, emang dalam waktu sebulan itu pengeluaran untuk sosial banyak banget. Banyak tetangga yang sakit, yang lahiran, yang harus ditolong, makanya uang cepat habis. Kalau begitu biasanya, saya mau nggak mau ambil uang tabungan. Anggap aja itu tabungan buat akherat, harus ikhlas, harus legowo. Dengan catatan, uang tabungan memang masih ada. Kalau nggak ada ya, berarti sudah cukup. hehehe

Jadi sebenernya saya mau nulis apa ini, kok jadi mbulet?

Sebenernya, saya cuma pengen ngomong. Sebaiknya, ada uang anggaran untuk sosial dalam keuangan kita. Kenapa? karena kita kan makhluk sosial, jadi terkadang harus berhubungan dengan orang lain. Dan kadang juga melibatkan duit di dalamnya. Jadi nggak ngedumel kalau pas ditarikin untuk nengokin orang sakit, misalnya.

Jumlah uang sosial tidak harus banyak, yang penting ikhlas. Mudah-mudah an rejekinya jadi berkah. Dan lebih penting lagi, biar emak-emak tetap waras kalau diajakin nengokin orang sakit atau lahiran. Nggak perlu nglempar panci sama orang yang narikin hahahahhaha

Jadi emak-emak, sudah ada uang untuk sosial kah?

Eh, tapi Bukan sosialita lho ya...



Yang banyak dibaca