Bisnis Anak Kecil


suatu hari sepulang dari sekolah, Shasha sms ayahnya yang masih kerja. Dia bilang, kalau dia mau minta dibikinin stiker kartun. Di dalam sms nya ditulis daftar sejumlah karakter kartun yang harus ayah download. Dan satu lagi, ayah harus sediain kertas stiker.
ayahnya nurut.
Sepulang dari kerjaan, ayahnya menyerahkan beberapa kertas stiker dan gambar gambar kartun yang sudah dipesen Shasha.

Tapi ternyata, tugas ayah tidak sampai di situ saja. Ayah masih punya tugas lain. Apalagi kalau bukan ngeprint gambar gambar itu di atas kertas stiker.
Ayahnya nurut lagi.

Akhirnya, malam itu ayah dan Shasha sibuk di depan meja komputer. Ayahnya sibuk ngeprint gambar gambarnya, sedangkan Shasha yang dapet tugas guntingin gambar kartunnya jadi kotak kotak kecil. Bundanya hanya ngomel. Gambar gambar kartun seperti yang akan dibuat Shasha itu udah banyak di rumah. Hampir sedompet penuh. Lama lama akan menumpuk dan hanya nyampah di rumah. Setiap sore pergi ke masjid bareng teman temannya Shasha pasti jajan gambar.

Walaupun ngomel ngomel, tapi tetap tidak bebas dari tugas. Daripada ngomel ngomel terus akhirnya bunda ditugasin sama Shasha buat nyari dompet. Dompet itu mau dipake wadah gambar stiker yang udah dipotong kecil kecil.

Paginya, Shasha bilang kalau mau jualan stiker yang tadi malam dibuat bareng ayahnya. Bundanya menolak.

" bagaimana kalau seandainya ketahuan bu guru? " tanya bunda

" jualannya pas istirahat bun....."

" nanti bunda malu ditegur sama bu guru...."

" kan, belum dicoba " Shasha menjawab dengan entengnya.

Bunda sebenernya nggak terlalu yakin dengan idenya. Lha masak anak kelas satu belum rapung satu semester udah jualan di sekolahan.

Padahal, Shasha sama sekali nggak kekurangan uang jajan. Apalagi kesulitan biaya sekolah. Tapi akhirnya bunda mengiyakan dengan setengah hati.
Ngerasa malu lah kalau ketahuan gurunya. Dikira orang tuanya yang nyuruh.

Sepulang dari sekolahan, seperti biasa bunda buka buka tas Shasha sambil ngecek ada nggak tugas buat besok.
Alangkah terkejutnya saat mendapati uang buanyak banget di tas anaknya. Dua ribuan sebanyak sebelas lembar.

" uang siapa nih, kak ?" bunda menginterogasi Shasha

" uang shasha jualan stiker...."

Alamak......jadi beneran Shasha  jualan stiker ? 

" ya.....gitu deh....."

Setelah di interogasi, Shasha bilang ibu gurunya nggak tau kalau dia jualan.

Stiker gambar karakter yang dibuat Shasha ludes habis tak tersisa.
Malah katanya, ada yang pesen lagi.
Shasha sms ayahnya lagi minta dibuatin stiker. 

" jadi siapa saja yang pesen ?"

Shasha nyebut beberapa temannya.

" dan siapa saja yang beli ?"

Shasha ngitung beberapa temannya.
Bunda minta Shasha menuliskan siapa saja yang pesen dan siapa saja yang beli di sekolahan.
Dan ternyata, dari catatan penjualan yang di tulis Shasha uangnya kelebihan.

Dan inilah jawaban Shasha..................

Katanya, tadi ada yang beli tapi uangnya belum di kembaliin. Kembaliinnya besok. 

Lho....berarti uang ini bukan punya Shasha semua dong...masih ada punya temennya? Shasha mengangguk.
Akhirnya bunda minta Shasha menghitungnya. 
Dan........sempurna.........dia bingung !!!!!

Secara, di kelas satu dia belum diajarin ngitung uang. Dan belum diajari soal cerita untuk menghitung uang. Juga belum ada pengenalan tentang jumlah nominal uang.
Dia masih bingung, seribu itu lima ratusannya berapa biji.....
Bundanya nepok jidat. Mau jualan tapi belum ngerti ngitung uang, jadi bagaimana ?

Akhirnya, dimulailah Shasha belajar ngitung uang di rumah. 

Pertama, Shasha harus dikenalin dulu macem macem nilai nominal uang. 
Lima ratusan, seribuan, dua ribuan, sepuluh ribuan, seratus ribuan.
Setelah itu disuruh ngitung kalau seribu itu lima ratusnya berapa, kalau dua ribu itu ribuannya berapa.
Baru kemudian belajar ngitung uang. Kalau beli jajan lima ratus, trus uangnya seribu kembaliannya berapa....

Tapi namanya juga anak anak umur 6 tahun dan masih pertama kali ngitung duit, pasti  selalu ada aja salahnya. 

Malamnya, Shasha nungguin ayahnya sampai malam tapi belum pulang juga sampai ia tertidur. Pas ayahnya pulang, ayahnya nggak ngerti gamnbar gambar apa aja yang mau diprint trus bentuknya bagaimana. Dan dia nggak pesen juga sama bunda sebelumnya.

Maka....keesokan paginya subuh subuh ayahnya udah diobrak obrak sama Shasha....

" ayah....bangun bikinin akau stiker...."

Ayahnya masih malas malas bangun. Tapi dengan langkah diseret, setelah sholat subuh mereka berdua sibuk bikin stiker.
Seribu rupiah dapet stiker lima, kalau yang pesen ada sepuluh ribu, kaliin aja sendiri.....
ayahnya keringetan.....

Shasha nggak bisa guntingin cepat.

Dari dapur, bundanya udah ngomel ngomel teriakin mereka buat buruan mandi.

" sarapan telat....buruan mandi dulu...!" teriak bundanya

Tapi, mereka tetap tak bergeming. Bundanya jengkel, liatin mereka masih sibuk ngurusin stiker.

" Ini udah dipesen lho bunda.....uangnya udah ada sebagian yang dibawa Shasha. Kasian nanti shashanya ditagih sama teman teman..." ucap ayah

huh.....bunda paling jengkel yang namanya utang. Jadi dengan sigap, disela sela bikin sarapan bunda ikut guntingin stiker juga.

Sempurna.....

Pagi pagi sudah diisi dengan kehebohan bikin dagangan anak umur 6 tahun yang iseng jualan. Sebelum berangkat, bunda nyiapin uang receh lima ratusan untuk uang kembalian jika ada yang beli dengan uang lebih. Dan shasha mengangguk puas.

Sore sepulang sekolah, Shasha laporan lagi kalau stikernya terjual habis dan ada yang pesen lagi.
Masalahnya, dia masih susah ngitung berapa uang kembaliannya. Anak anak yang beli mengambil uang kembalian sendiri. Itulah kenapa sepulang dari sekolah uang yang dimiliki Shasha malah menyusut nggak bertambah.

Ada beberapa anak yang entah sengaja atau nggak sengaja mengambil uangnya kelebihan. Ada yang ngambil recehannya banyak dikira itu recehan mau dibagi bagiin.

Ya inilah resiko kalau penjual nggak ngerti itungan uang dan pembeli juga belum ngerti ngitung kembalian.

Beberapa hari setelahnya.............
Teman temannya di sekolah mengikuti jejak Shasha jualan.
Ada yang jualan pensil, gantungan kunci, penghapus, kertas binder.

Sayangnya..... ada peraturan baru dari bu guru. Anak anak dilarang jualan. Dan kalau masih ada yang ketahuan jualan, barang dagangannya akan disita bu guru.

Peraturan itu dikeluarkan sebab ada kejadian salah satu temannya Shasha yang jualan pensil tiba tiba berantem jambak jambakan sama temannya. Alasannya sepele.......
Masalah uang kembalian.

Anak yang satu kekeuh kalau uang kembaliannya itu seribu. Tapi anak yang lain nggak mau terima. Maunya kembaliannya seribu lima ratus. Dan terjadilah pertengkaran itu.
tapi usaha shasha untuk jualan tidak berhenti begitu saja. Dia malah kerja sama sama anak tetangga untuk jualan alat tulis seperti teman temannya.
Ada Pensil pensil unik, penghapus lucu lucu, penggaris yang imut imut, kertas binder aneka warna.

Pas ditanya dari mana barang barang itu didapat, anak tetangga itu bilang kalau ibunya yang beliin  khusus untuk jualan.

hmmm.....okelah kalau begitu.

Kata Shasha, alat tulisnya itu akan dijual bareng bareng. Mungkin maksudnya melakukan marketing bareng gitu.....dan hasilnya nanti akan dibagi dua.

Lho......rugi dong temannya. Secara, Shasha nggak keluar modal uang buat beli dagangan  lha kok kebagian untung.
Bunda akhirnya kasih tau bagaimana caranya bagi bagi keuntungan jualan.

Bunda minta mereka membuat catatan penjualan.
caranya.....mereka diminta mencatat semua transaksi jual beli di sebuah buku kecil.
Siapa saja yang beli dan barang apa saja yang dibeli. Setelah itu kumpulin uangnya. Kalau sudah, ambil sejumlah uang untuk membayar modal pensil tersebut baru sisanya dibagi dua.

Jadi kalau pensilnya laku sepuluh dan harga modalnya lima ratus, barangnya harus dijual dengan harga seribu. Berarti uang yang didapat adalah

modal : 10 x 500 = 5000

keuntungan : uang yang di dapat - modal
keuntungan :  10 000 - 5 000
                    :  5000

jadi keuntungannya 5000

Nah, keuntungan itu boleh dibagi dua.

Sayangnya, anak tetangga itu bilang

" nggak papa lho, tante.......nanti dapetnya dibagi dua aja....."

" lha nanti dimarahin sama bundanya.....?"

" nggak lah......"

Bundanya nepok jidat bingung. Shasha dengan bahagia menerima aturan dari temannya. 
lalu dimulailah mereka nawarin barang dagangan ke beberapa teman yang mereka temui.
Setiap pulang dari sekolah, mereka bawa bawa alat tulis itu ke masjid dekat rumah buat ditawarin ketemen temennya.

Sayangnya, jualan alat tulis itu memang nggak mudah. Alat tulis biasanya dibelikan sama ibunya. Mereka nggak mau kalau uang jajan mereka dibeliin alat sekolah. Mending buat jajan.

Jadi alat tulis yang mau dijual itu jarang ada yang beli. Dalam seminggu kadang hanya terjual satu. Akhirnya, alat tulis itupun hanya teronggok rapi di dalam lemari buku Shasha.

Tapi sepertinya, usaha shasha untuk jualan tidak sampai di situ saja. 

Kadang kala, Shasha dikasih uang sama mbahnya. Uang itu disimpan rapi nggak boleh diminta sama bundanya.

Nah, saat teman temannya lagi seneng kartu frozen misalnya, dia belikan uangnya untuk beli kartu. Kartu kartu itu lalu dijualnya di sekolahan.

Kebetulan, di dekat rumah Shasha ada sebuah agen khusus tempat pembelian aneka pernaak pernik mainan yang biasa dupakai sebagai kulakan para pedagang gerobak mainan.
Nah, di situlah Shasha membelinya biar lebih murah.

Harga kartu yang dijual di abang abang keliling 2000 sedangkan di toko agen hanya 1500 rupiah. Kalau dijial lagi Shasha dapat untung 500 rupiah.

Cuma sayangnya, namanya anak kecil kendalanya di masalah hitung hitungan.....

Kadang suka salah hitung berapa kembalian dan berapa uang yang semestinya didapatkan. Jadi tetep, bundanya harus sering sering ngawasi.







Komentar

Yang banyak Dibaca

Jalan-Jalan Nikmat di Kampung Turis

Peyek Jengkol

Trip Sukabumi # Pantai Cibangban

Taman Buaya Indonesia Jaya

Aku juga bisa ngambek !