Marah Salah Sasaran

Juli 18, 2016


Alkisah, di sebuah negri antah berantah, berjarak ratusan kilometer cahaya dari bumi, jauhlah pokoknya, ada seorang ibu datang ke rumah-rumah penghuni lain untuk narikin uang santunan anak yatim. Sesuai dengan perintah sang raja, satu persatu rumah ia ketuk. Sambil memasang wajah manis, si ibu mengatakan maksud kedatangannya.

Ketika penghuni rumah itu tau maksud kedatangan ibu tadi, beberapa penghuni rumah terkejut memasang wajah tidak suka, mrengut sambil ngedumel,

"Bayar lagi...bayar lagi..."

Si ibu hanya tersenyum. Tidak bisa berbicara banyak, karena bagaimanapun itu perintah sang raja. Dia hanya menjalankan tugas.

Kisah di negri antah berantah itu kita stop sampai di sini, lanjut ke kisah yang kedua:D

Kisah yang kedua,

Kalau ini kejadiannya ada di indonesia raya, sebuah negara di bumi yang dipimpin oleh seorang presiden, berbahasa resmi bahasa indonesia dan berbendera merah putih warnanya:p

Seorang bapak-bapak marah sama tukang kasir gara-gara disuruh bayar kantong plastik tempat belanjaan dia. Sambil melotot, melempar semua barang belanjaan dia di meja, bapak itu berkata,

"Saya tidak sudi disuruh bayar kantong plastik. Lagian bukannya kantong plastik ini haknya pembeli?!?!"

"Iya pak. tapi uang itu nantinya untuk biaya daur ulang plastik, agar tidak banyak plastik yang dibuang ke bumi" si kasir menjelaskan.

Bapak itu tetap tidak mau terima, justru makin menjadi kemarahannya sama si kasir. Bahkan, kasirnya mau di cekek sama bapak tersebut.





Kisah kedua kita stop sampai di sini ya, lanjut ke kisah yang ketiga.

Kisah ketiga ini adalah kejadian yang saya alami sendiri.

Beberapa waktu lalu, saya lagi belanja di salah satu swalayan dekat rumah. Waktu itu, saya mau beli sarden. Saya liat label harganya 12rb, tapi ketika sampai kasir ternyata harga yang harus dibayar seharga 25rb. Saya sewot.

"Mbak, harganya kan 12 rb? Kenapa jadi 25 rb?"

"Maaf ibu, tapi di komputer harganya segitu"

"Wah, nggak bisa gitu dong...ini namanya penipuan. Masak harga yang dipasang sama komputer beda"

Melihat saya mulai marah, mbak kasir akhirnya ngecek harga yang dipajang. Ternyata, harga yang dipajang itu harga bulan kemaren waktu promo dan sekarang udah kembali ke harga normal lagi. Tulisannya kecil banget, jadi sayapun nggak ngeh itu harga kapan. Mbak kasir akhirnya meminta maaf.

Liat mbak kasirnya rada gugup liatin saya sewot, sayapun akhirnya meminta maaf. Lagian bukan salah dia juga, ngapain saya marah ke dia. Mungkin yang salah yang nulis harga, atau atasannya atau siapa.

Dari ketiga kisah di atas, kita bisa tau kalau marah itu datangnya tiba-tiba. Kadang di rumah, kadang di jalan saat macet-macetan, kadang pas ketemu temen, ketemu tetangga bawel. Kadang malah marahnya sama benda mati. Jatuh dari motor, marahin jalanan licin. Padahal karena memang kitanya yang nggak hati-hati.

Nah, seseorang itu kalau udah hatinya dongkol, marah, matanya gelap. Nggak peduli kanan kiri. Pikirannya juga udah susah diajak kompromi, apalagi marahnya benar-benar marah. Rasanya pengen ngamuk aja ke sumber api.

Apalagi di jaman medsos kayak sekarang ini nih...orang dengan mudahnya mengumbar marah. Baca status nggak sesuai dengan prinsip dirinya ngamuk, ngajak berantem.

Kalau udah selesai ngamuk, kadang timbul perasaan bersalah, timbul rasa penyesalan, "kok aku tadi begitu ya...harusnya gak seperti itu"

Terlebih lagi, kalau ternyata yang kita marah-marahin itu nggak bersalah. Mau meminta maaf gengsi, nggak minta maaf galau. Ya gitu deh...padahal, pas kita marah-marah dilihatin orang banyak. Tambah galaunya. Orang-orang dah kadung tau, nggak bisa dihapus dari ingatan mereka ucapan yang udah kita keluarkan.

Makanya, akhir-akhir ini saya belajar untuk mengendalikan diri sekuat tenaga. Ada yang ngomongnya bikin kuping panas, tak tinggalin. Ada yang statusnya memojokkan, say good bye aja.

Bukannya nggak mau membela diri, takutnya kalau saya ngomong jadi makin rame. Trus kalau udah rame, jadi bikin marah. Kalau marah, takutnya salah sasaran. Kayak cerita-cerita di atas itu kan. malu!

Jangan-jangan kita marah sama orang yang yang salah
Jangan-jangan orang yang kita marahi itu justru orang yang mengingatkan kita kalau kita salah
Jangan-jangan orang yang kita marahi itu justru sahabat terbaik
Jangan-jangan....ah, jangan-jangan kita yang salah

Jadi, mendingan tahan sejenak marahnya. Toh, ketika sudah diam beberapa saat, merenung, memikirkan matang-matang apa yang terjadi, marah berangsur-angsur lenyap. Daripada marah-marah, kenapa nggak ngomong-ngomong aja?

Mengungkapkan kekecewaan dengan pelan-pelan. Susah ya? Tapi percayalah, itu lebih baik daripada marah-marah di tempat umum apalagi di media sosial.

Selamat menahan marah :)

You Might Also Like

1 komentar

  1. Kalau sudah marah itu memang sering gelap mata mbak. Apalagi kalau sebelumnya sudah punya masalah. Kayak kompor mleduk gitu aja,

    BalasHapus

terima kasih sudah komentar di blog ini. komentar insya Allah akan saya balas. Atau kunjungan balik ke blognya masing masing :)

Popular Posts

I'm Member Of

I'm Member Of

I'm Member Of

I'm Member Of