Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Hutan Wonoasri, Hutan "Seram" yang Berubah Jadi Taman

Gambar
Hutan Wonoasri, saya lebih megenalnya dengan sebutan hutan seper. Entah seper tiga, seper lima, atau seper ti hatiku padamu hehehe...Tapi hutan ini dulunya begitu terkenal dikalangan para muda mudi sebagai tempat tujuan wisata mereka. Entah dari segi sisi apanya yang menarik, saya juga tidak mengerti.

Tapi bagi para orang tua, termasuk bapak saya waktu itu, hutan seper adalah hutan yang begitu menyeramkan. Iya, sangat menyeramkan. Sampai-sampai, saya aja nggak diijinkan untuk pergi ke sana. Mau sendiri atau bareng-bareng tetep nggak boleh ke sana. Katanya, di sana super angker.

Padahal, dari berita-berita yang berseliweran waktu itu, di sana adalah tempat yang paling syahdu mengharu biru buat berdua-duaan. Udaranya dingin dan sunyi. Tapi hati-hati, biasanya sepulang dari sana jumlah anggota jadi nambah. Sebuah prahara terjadi. Bumi gonjang ganjing, ayam jantan berkokok tiap sore hari, keluarga jadi galau akut* mulai ngelantur deh. Sungguh begitu menyeramkan...!

Nah, setelah sekian la…

Bertindak Nyata

Suatu hari, saat saya nongkrong di luar sambil memarkir mobil, seorang mas-mas datang menghampiri tukang ketoprak keliling.

"Mas, ngaji yuk!" ajak mas-mas itu.

"Ah, nggak bisa, Mas. Mas kan tau sendiri saya keliling jualan."

"Sebentar saja. Tidak usah  banyak-banyak," Bujuknya.

"Tapi saya tidak punya Al qur'an mas." Penjual ketoprak mencoba beralasan lagi.

"Tenang, Mas. Nanti saya kasih Al qur'an nya. Mas mau yang mana? Yang besar atau yang kecil?" Tanyanya lagi.

"Saya nggak bisa yang hurufnya kecil-kecil," Kata tukang ketoprak.

"Oke, mas. Besok saya bawakan Al qur'an yang gede sekalian terjemahannya,"

Mas-mas penjual ketoprak keliling itu menelan ludah, tidak bisa beralasan lagi.

"Tapi bener ya, Mas. Cuma sebentar saja," Kata Penjual ketoprak penuh harap.

"Tenang, Mas.  Satu ayat saja. Nanti saat mas nya keliling, dibaca berulang-ulang ya, biar hafal sekalian."Penjual ketoprak pun t…

Dua Porsi Kikil Istimewa

Gambar
Beli seporsi kikil.

Berapa?

Seorang lelaki menjawabnya dengan ragu. Seporsi kikil tidak cukup memuaskan hasratnya. Sedangkan dua, itu terlalu kejam. Karena uang belanja bulanan sedang dalam masa penyusutan.

Seporsi kikil dengan kuah khas masakan padang. Berkuah kental dan beraroma tajam karena bumbunya.

"Dua porsi ya?" Tawarnya sambil tersenyum

Dua porsi kikil istimewa. Dibeli dengan kasih sayang yang begitu mendalam.

Dua porsi kikil itu akhirnya bisa pulang. Tidak ada kemarahan. Hanya senyum yang terlintas mengiringinya.

Lalu...kami menikamtinya. Sampai sebuah berita itu mampir di telinga.

Telinga kami tiba-tiba panas. Wajahnya tertunduk lesu.

Sebuah kakek  terdampar di pinggir jalanan. Anaknya entah di mana. Ia hanya minta belas kasihan dari orang- orang yang melintasinya. Tidur dipinggiran jalan dengan atap terpal yang tidak kokoh. Tak ada bantal empuk, atau kasur dengan wangi bunga. Tak ada anak cucu, begitupun anak menantu. Sepi...sendiri...hidup terasa tiada guna lagi…

Aku Ingin Membuat Pelangi

Gambar
"Aku ingin membuat pelangi!" Serunya dengan gembira

Pelangi? Dahi ibu berkerut. Ingat lagu masa kecilnya.

Pelangi...pelangi...ciptaan Tuhan

Bagaimana bisa?

"Gampang kok, hanya butuh piring, air, dan permen warna warni"

Lalu?

Lalu..., ia pergi ke swalayan terdekat. Membeli dua bungkus permen warna warni yang menurut ibunya harganya cukup mahal. Tapi demi mengobati rasa penasaran anaknya, sang ibu rela mengulurkan uang.

Sampai rumah, ia menyiapkan piring polos. Menata permen melingkar di atas piring. Lalu...memberinya air.


Kemudian...jadilah sebuah pelangi.




Bukan pelangi sungguhan. Karena pelangi yang sesungguhnya, hanya Allah yang memiliki alam semesta ini lah yang mampu membuatnya.

Kemudian ia lupa.

"Memang pelangi itu ada warna coklatnya, ya?"

Karna waktu akan terus bergulir cepat. Dan masa itu tidak akan pernah kembali. Jejak ingatan pun akan terus memudar.

Seperti permen warna warni.

Akhirnya, Kursus Menulis Selesai.

Akhirnya..., kursus menulis selesai.
Antara lega dan sedih.

Lega, karena akhirnya saya bisa menuntaskan tanggung jawab sebagai murid dalam kursus menulis. Sedih, karena akhirnya saya sendiri lagi. Tidak ada yang ngingetin PR, tidak ada yang bilang, "Ayo, kamu pasti bisa."

Selama delapan minggu, saya berkutat dengan ide dan PR PR. Dari bangun tidur sampai bangun tidur lagi, yang dipikin hanya ide dan ide#lebay. Karena memang kursus menulis ini bukan hanya teori tapi juga langsung praktek. Jadi, selama pertemuan pun selalu menulis.

Waktu masih fleksible. Kadang kalau ada acara ngaji, ya ngaji. Kalau ada arisan, atau kegiatan lain saya juga minta ijin. Begitu juga dengan Ibu Guru. Ibu Guru saya adalah seorang ibu rumah tangga yang super hebat. Kegiatan menulisnya seabrek-abrek, tapi masih sempat mengajar diriku yang begitu dudul ini.

Hal tersulit yang saya  alami selama kursus adalah, ketika saya diminta untuk menuliskan tentang sesuatu yang dibenci.

Saya bukan termasuk orang …