Langsung ke konten utama

Pe De


Kata orang, buah jatuh itu tidak jauh dari pohonnya. Maksudnya, anak itu mirip miriplah sama orang tuanya. Entah itu wajahnya ataupun kelakuaannya. Tapi, saya dan shasha ( anak wedok ) kok beda? Beda jauh…..malah.


Saya tipe orang yang pendiem. Lebih suka memendam segalanya sendiri. Misalnya, kalau pas lagi nonton tv. Pas adegan lucu, Shasha biasanya ketawa ngakak ngakak. Kadang malah sampai guling guling segala. Tapi saya, selucu apapun paling cuma mesem doang. Shasha, kalau memuji seseorang sampai berbusa busa mulutnya. Sedetail detailnya lah kalau kagum sama orang itu. Tetapi, saya lebih cenderung diam, dan cukup mengagumi dalam hati saja.


Kalau saya sama ayahnya lebih suka berdiam di rumah ketimbang pergi kumpul kumpul, kadang kala aja pengen ngumpulnya, nggak terlalu doyan banget. Tapi, Shasha justru sebaliknya. Dia, kalau di rumah udah kayak ayam aja. Kalau belum sore belum mau pulang. Kalau bundanya belum gembok pagar belum punya inisiatif buat bubarin kompinya. 

Shasha punya pd tingkat mendunia. Sedangkan saya, tipe orang yang nggak pd an, sensitive, mudah patah, perasa, kalau sudah malu, seumur hidup bakalan di ingat ingat kejadiannya. Pribadi saya, hampir mirip lah sama ayahnya. Kecuali sensitive sama mudah patahnya itu.
Suatu malam, Shasha bilang ke saya begini,

“ Bunda, besok aku pakai baju merah putih “ katanya sambil mainan. Dengan rada samar saya mengiyakan. Ditengah tengah kesibuk ngurus adeknya yang waktu itu lagi rewel

Keesokan paginya, seperti biasa. Pagi pagi saya udah nyiapin sarapan dan baju yang mau di pakai hari ini. Kontan aja Shasha protes.

“ Bunda, aku kan pakai baju merah putih…..kenapa bunda ngasihnya baju bebas ?”

“ Lho….bukannya kamu semalem bilang kalau pakai baju bebas?” saya membela diri

“ Semalam, aku bilang kalau pakai baju merah putih bunda…..” katanya ngotot.

Okelah…..terserah semalem ngomong apa, yang pasti sekarang harus pakai baju merah putih! Well, tapi baju merah putihnya nggak tau di mana? Maklum, emak emak gaje( gak jelas ). Sekarang hari rabu, hari senin kemarin seragam merah putih baru aja di pakai, sudah pastilah kalau nggak jelas di mana keberadaannya. Entah di kotak setrikaan, di mesin cuci belum dijemur, atau malah  masih ngeram di bak baju kotor.

Saya sedikit geram, kecewa, sebal, dan perasaan tidak enak lainnya. Timbul niatan dalam hati saya untuk menyuruh shasha tidak masuk sekolah. Tapi, itu kan nggak bagus. Mungkin memang, kalau saya yang ada di posisi dia sekarang bakalan marah dan ngobrak abrik seisi rumah. Tapi kelihatannya, Shasha baik baik  aja tuh. Sampai akhirnya, saya memutuskan

“ Udah kak, pakai baju bebas aja……” kataku sok baik baik saja.

Padahal, saya sempat ragu. Saya takut, sampainya di sekolah Shasha bakalan malu dilihat sama teman temannya karena seragamnya keliru. Sudah terbayang di benak saya, bagaimana nanti kalau tiba tiba Shasha nangis di ejek temen temennya? Saya ingat temannya Shasha dulu, waktu jamannya tk, ada yang nggak mau masuk hamper sebulan gara gara salah pakai seragam sehari. Ngeri ngebayangin hal itu terjadi sama anakku. Kasiahan. Tapi, mau gimana lagi. Namanya juga kecelakaan. Hihi…..

Akhirnya, ya udah….Shasha pakai baju bebas.

Pas jemputannya dateng, saya rada deg degan. Was was banget gitu……berdoa dalam hati, semoga nggak ada emak emak yang nongkrong di depan rumah  trus nanya,  “ seragamnya Shasha kok beda?”

Bisa bisa, semingguan saya nggak keluar rumah saking malunya.

Dan akhirnya, setelah Shasha masuk ke mobil jemputan, saya langsung buru buru pergi sambil ngumpetin muka. Mlipir masuk kedalam rumah. Ah……..lega….selamat dari tatapan ibu ibu yang sudah pasti bakal mengejek  saya.

Seharian, di rumah saya kepikiran terus sama Shasha. Berkali kali cek hp, siapa tahu ibu gurunya telp. Bilang kalau shasha nangis di sekolah di ejek temennya. Tapi sampai sore, mendekati Shasha pulang nggak ada satupun sms ataupun telp dari gurunya.

Setelah shasha pulang, seperti biasa….waktunya ngepoin dia.

“ Kak, tadi ada yang ngejek nggak shasha pakai seragam salah ?”  tanyaku hati hati. Takut dia sedih.

“ Ada…”

Duh, jantungku deg deg an nggak karuan.

“ Trus, kamu bilang apa?”

Saya komat kamit merapal doa.

“ Biarain aja….masalah buat loh ????”

Gedubrakkkk…..hampir saja saya mau pingsan denger jawabannya. Nggak nyangka Shasha berani banget bilang gitu. Tapi, tunggu…..acara ngepoin Shasha belum selesai sampai di sini saja.

“Trus, Bu guru bilang apa?” tanyaku lagi. Penasaran.

“ Bu guru nanya, kok Shasha pakai baju bebas? Bu guru kan udah bilang hari ini pakai baju merah putih.”

Kepala saya terasa berputar putar. Berharap Shasha tidak jawab seperti kata “ soimah “ itu.

“ Trus kamu jawab apa kak?”

Aku nggak sabar pengen denger jawabannya.

“ Aku bilang…….kata bunda, bajunya belum di cuci. Jadi pakai baju bebas aja….”

Kontan saja saya langsung menepuk jidat berkali kali. Nyungsep ke dalam bantal. Pengen nutupin badan pake sprei, gorden, atau apa ajalah untuk menutupi malu.Sejak kejadian itu, tiap kali ketemu sama gurunya muka saya langsung merah. Teringat jawaban Shasha, yang membuat saya ill piil berat. Dasar emak pemalas. Mlipir mlipir…….

Sedangkan Shasha, seperti biasa. Seperti tidak ada kejadian apa apa. Padahal, sebenernya mungkin gurunya juga tidak terlalu mengingat kejadian itu. Hanya saya saja yang masih perasa. Itulah bedanya saya sama shasha. Shasha punya pd peringkat dunia, sedangkan saya, terserah penilaian anda sajalah…..*nyungsep ke tumpukan jerami *


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan-Jalan Nikmat di Kampung Turis

Waktu pertama kali dengar nama kampung turis, bayangan yang terlintas di benak adalah sebuah kampung yang banyak turisnya. Atau...sebuah tempat yang isinya menjual aneka jajanan berbau asing. Kayak di kampung cina, yang isinya macam-macam barang yang berbau kecinaan. Tapi ternyata saya salah. Kampung turis ternyata sebuah resto(tempat makan), tempat ngumpul bareng, tempat renang, tempat main anak, sekaligus tempat nginep. Bahasa gaulnya, Resort and Waterpark. Kampung Turis berlokasi di Kp. Parakan, desa Mekar Buana, kecamatan Tegal Waru-Loji, kab Karawang, Jawa barat. Jadi ceritanya, minggu pagi itu rencananya kami sekeluarga mau ke curug Cigentis. Di daerah Loji juga. Tapi berhubung pagi itu, saat mau berangkat mobil ngambek jadilah kami nunggu mobil pulang dari bengkel. Pulang dari bengkel sudah jam 11 siang. Kalau nggak jadi berangkat rasanya galau banget, kalau berangkat sepertinya tidak memungkinkan karena perjalanan dari rumah ke Loji saja sudah 2 jam. Kalau mau nekat ke curu

Tips Agar Kursus Online Bisa Efektif Ala Bunda Sha

Foto: www.pexel.com Akhir-akhirini, di media sosial banyak sekali kursus online. Kursus memasak, kursus menulis, kursus buat ini itu. Banyak sekali. Kursus-kursus itu juga dibanderol dengan harga yang cukup menggiurkan. Terjangkau banget untuk emak-emak seperti saya yang males keluar ikut kursus di luaran sana. Salah satu hal yang paling saya sukai ikut kursus online itu, nggak harus pergi-pergi, nggak harus macet-macetan, nggak harus ngatur gimana waktunya antara anak dan keluarga. Cukup duduk di rumah saja dapet ilmunya. Meskipun begitu, saya tetep harus memperhitungkan banyak hal dong ya, biar kursusnya tetep jadi ilmu yang bermanfaat nggak asal nyomot kursus. Dua bulanan ini, saya lagi ngebut ikut kursus. Selain karena butuh, juga karena harganya yang lagi murah meriah. Nah, sebelum memutuskan ikut kursus, biasanya saya mempertimbangkan dulu hal-hal di bawah ini: Kursus online yang sesuai passion Namanya juga emak-emak haus ilmu, kadang denger ada obralan kursus ya

Apa Itu Blogwalking?

Foto: www.Auliatravelmedan.com Bagi blogger yang sudah lama terjun di dunia blog, blogwalking tentu bukanlah hal yang asing lagi. Tapi bagi para blogger pemula, blogwalking adalah sesuatu hal yang baru. Sampai-sampai, kadang pada bingung. Bogwalking itu ngapain aja sih? Blogwalking bagi sebagian para blogging sering disebut dengan istilah BW. Adalah salah satu aktivitas seorang blogger berkunjung ke blog lain dengan tujuan untuk menjalin silaturahmi sekaligus sebagai ajang perkenalan untuk blognya. Jadi blogwalking itu baca postingan di blog orang lain trus komentar gitulah, intinya. Kenapa harus komentar? Ya biar pemilik blog yang kita kunjungi tau, siapa saja para pengunjung blognya. Blog siapa saja yang sudah beerduyun-duyun datang ke "rumah"nya. Emang kalau nggak komentar kenapa? Kalau kita nggak komentar, tentu pemilik blog nggak akan tau kalau kita sudah berkunjung ke blognya. Karena biasanya, kalau kita komentar, link URL blog atau google p