Langsung ke konten utama

Stop Media Sosial atau Ganti Teman


Bagi orang-orang yang mengenal dekat saya, entah sering nongkrongin blog ini atau karena sering merhatiin status saya di fb, pasti pada tahu kalau akhir-akhir ini saya jarang nongol keluar. Jarang nyetatus, jarang nge like, jarang komentar juga. Padahal sebelumnya, hampir tiap hari saya buka fb. Dan paling tidak, pasti saya koment, share, atau like ke beberapa teman yang statusnya lucu dan unik.

Ya, status lucu. Saya seneng banget kalau ada yang nyetatus bikin senyum, ketawa. Lucu tapi tidak menyinggung orang lain. Begituah...

Tapi sebulan yang lalu itu, tiba-tiba timeline saya gaduh. Ruame banget kayak lagi ada jambret di pasar. Fomo lewat, ganti mamamiah di rumah dan kerja kantoran, sampai bom meledak, trus pada ngributin polisi ganteng ganteng kurcaci, trus nantangin semua orang kami tidak takut. Walah...

Kayaknya semua berubah jadi singa mengaum. Aumannya dikenceng-kencengin biar pada denger. Sebenernya itu nggak jadi masalah sih, buat saya pribadi setiap orang punya hak nyetatus. Yang bermasalah justru diri saya sendiri. Setiap kali buka fb, baca status mereka langsung gatel pengen koment. Pengen ikutan ngomong, tapi trus tak tahan. Karena di pundak saya ada harga diri seseorang yang begitu penting yang harus tetap saya tinggikan.

Harga diri siapa? harga diri suami.

Ah, konyol! masak fb kan aja pakai bawa-bawa harga diri suami segala. Harus dong...karena sebagai seorang istri, status saya, koment saya, siapa tau dibaca oleh kenalan suami. Kalau kenalan suami itu tiba-tiba liat status saya nyinyir, atau koment saya ngebully orang lain trus gimana?

Sebagai seorang istri yang ingin dicintai dan disayangi suami sampai ajal menjemput, sudah  pasti harga diri suami menjadi prioritas yang pertama dan utama #uhuuk

Kembali ke facebook.
Untuk itu akhirnya saya memutuskan berhenti sementara dari dunia perfacebookan. Karena saya mereasa, kepala saya jadi makin rame kalau tiap hari baca status yang hebohnya super duper amit-amit.

Tapi yang namanya sudah kebiasaan, nggak bisa dihilangkan begitu saja. Nggak buka fb sehari rasaya ada yang kurang. Kurang informasi update gitu. Tapi tetap saya tidak mau buka fb saya.
Sebagai gantinya, kemudian saya buka fb akun suami. Di akun pangeran abal-abal, ternyata nggak seheboh akun saya. Di akunnya malah seru, lucu-lucuan, nggak ada yang nyetatus nyinyir sampai ngebully si a si b.

Heran...

Facebook nya anteng. Nggak ada yang ribut nge-bully orang. Kalaupun ada yang nyetatus nyinyir, nggak ada yang komentar aneh-aneh. Paling banter komentarnya, "Woles brooo...nggak usah dipikirin"

Apa karena isinya kebanyakan ibu-ibu itu ya, fb ku jadi ruame banget kayak pasar?

Entahlah...tapi begitulah kenyataannya. Timeline pangeran abal-abal lebih adem dan menyejukkan.

Dua minggu nggak buka fb ternyata saya dapatkan beberapa keuntuungan. Diantaranya adalah rumah jadi bersih rapi karena lebih fokus beres-beres, beberapa buku yang dibeli trus dianggurin sudah berkurang, nggak cepat marah karena kepala tidak terlalu ramai.

Nggak tau kenapa, kepala saya itu kadang ramai banget kalau kebanyakan baca status. Apalagi baca status orang yang sadis sengit.

Sampai saya buat daftar keuntungan apa aja kalau saya nggak fb kan. Setelah ditimbang, dipikirkan, ternyata fb terlalu buruk untuk hidup saya. Kemudian bertanya-tanya,

"Apakah akun fb ku harus ditutup?"

Kalau dituup, sayang banget. Bagaimanapun juga, masih ada beberapa teman yang baik, nggak nyinyir dan memberi hawa positif.

Atau ganti teman?

Unfriend teman-teman yang suka nyinyir, kompor, dan para biang heboh.

Atau kayak pangeran abal-abal yang fb nya hanya berisikan orang-orang yang ia kenal dekat saja?

Atau gimana? Ada saran mungkin?


Komentar

  1. Betul, saya aja takut, FB sekarang galak2 kayak mau nerkam orang aja. Belum lagi kalau satu nyolot, se gank nyolot semua. Takut kepancing & dosa. Pertamanya kaget2 sih, apalagi teman2 muslimah yg seharusnya bertutur kata lembut. Sayangnya saya banyak kerjaan disana. Solusinya saya batesi banget, cuma buka kalau kebetulan sekalian kerja di depan laptop. Aplikasi di hp sudah sy delete. Terus yg sering nyinyir gak jelas aku unfollow supaya tidak muncul di newsfeed tp tetep friend. Jadi adem deh. Hati nggak panas & nggak kepikiran ucapan2 yg pedes.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mbak, aku malah baru kepikiran delet aplikasi fb di hp. mau unfriend ntar dikirain sombong. akhir2 ini ada tuh, yang setiap aku nyetatus di koment negatif. padahal ya, aku nyetatusnya udah tak pikirin matang2, dua hari dua malam, biar nggak nyinggung orang.

      Hapus
  2. kalau aq cukup mainkan tombol unfollow mak di fb, kita aman gak liat yg negatif2, tp ttp aman dr tuduhan memutus silaturahmi

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah komentar di blog ini. komentar insya Allah akan saya balas. Atau kunjungan balik ke blognya masing masing :)

Postingan populer dari blog ini

Jalan-Jalan Nikmat di Kampung Turis

Waktu pertama kali dengar nama kampung turis, bayangan yang terlintas di benak adalah sebuah kampung yang banyak turisnya. Atau...sebuah tempat yang isinya menjual aneka jajanan berbau asing. Kayak di kampung cina, yang isinya macam-macam barang yang berbau kecinaan. Tapi ternyata saya salah. Kampung turis ternyata sebuah resto(tempat makan), tempat ngumpul bareng, tempat renang, tempat main anak, sekaligus tempat nginep. Bahasa gaulnya, Resort and Waterpark. Kampung Turis berlokasi di Kp. Parakan, desa Mekar Buana, kecamatan Tegal Waru-Loji, kab Karawang, Jawa barat. Jadi ceritanya, minggu pagi itu rencananya kami sekeluarga mau ke curug Cigentis. Di daerah Loji juga. Tapi berhubung pagi itu, saat mau berangkat mobil ngambek jadilah kami nunggu mobil pulang dari bengkel. Pulang dari bengkel sudah jam 11 siang. Kalau nggak jadi berangkat rasanya galau banget, kalau berangkat sepertinya tidak memungkinkan karena perjalanan dari rumah ke Loji saja sudah 2 jam. Kalau mau nekat ke curu

Tips Agar Kursus Online Bisa Efektif Ala Bunda Sha

Foto: www.pexel.com Akhir-akhirini, di media sosial banyak sekali kursus online. Kursus memasak, kursus menulis, kursus buat ini itu. Banyak sekali. Kursus-kursus itu juga dibanderol dengan harga yang cukup menggiurkan. Terjangkau banget untuk emak-emak seperti saya yang males keluar ikut kursus di luaran sana. Salah satu hal yang paling saya sukai ikut kursus online itu, nggak harus pergi-pergi, nggak harus macet-macetan, nggak harus ngatur gimana waktunya antara anak dan keluarga. Cukup duduk di rumah saja dapet ilmunya. Meskipun begitu, saya tetep harus memperhitungkan banyak hal dong ya, biar kursusnya tetep jadi ilmu yang bermanfaat nggak asal nyomot kursus. Dua bulanan ini, saya lagi ngebut ikut kursus. Selain karena butuh, juga karena harganya yang lagi murah meriah. Nah, sebelum memutuskan ikut kursus, biasanya saya mempertimbangkan dulu hal-hal di bawah ini: Kursus online yang sesuai passion Namanya juga emak-emak haus ilmu, kadang denger ada obralan kursus ya

Apa Itu Blogwalking?

Foto: www.Auliatravelmedan.com Bagi blogger yang sudah lama terjun di dunia blog, blogwalking tentu bukanlah hal yang asing lagi. Tapi bagi para blogger pemula, blogwalking adalah sesuatu hal yang baru. Sampai-sampai, kadang pada bingung. Bogwalking itu ngapain aja sih? Blogwalking bagi sebagian para blogging sering disebut dengan istilah BW. Adalah salah satu aktivitas seorang blogger berkunjung ke blog lain dengan tujuan untuk menjalin silaturahmi sekaligus sebagai ajang perkenalan untuk blognya. Jadi blogwalking itu baca postingan di blog orang lain trus komentar gitulah, intinya. Kenapa harus komentar? Ya biar pemilik blog yang kita kunjungi tau, siapa saja para pengunjung blognya. Blog siapa saja yang sudah beerduyun-duyun datang ke "rumah"nya. Emang kalau nggak komentar kenapa? Kalau kita nggak komentar, tentu pemilik blog nggak akan tau kalau kita sudah berkunjung ke blognya. Karena biasanya, kalau kita komentar, link URL blog atau google p