Langsung ke konten utama

Belajar Sepatu Roda


Akhir-akhir ini, sepatu roda jadi terkenal banget di lingkungan kami. Ada yang nyewain, ada pula yang udah beli sendiri. Kebanyakan malah udah banyak yang punya sendiri.

Shasha tidak ketinggalan juga pengen ikutan main sepatu roda. Awalnya, hanya dateng ke tempat penyewaan. Main 20 menit trus pulang gantian dengan yang lain. Tapi dianya nggak puas. Sampai akhirnya minta dibeliin sendiri. Dales-dialesin dulu sampai akhirnya kami membelikannya juga.

Seperti biasa, kami belinya lewat online karena males nyari muter-muter. Beli online selain harganya lebih murah juga bisa irit bensin dan jajan. Hehe...Apalagi sepatu roda, tinggal sesuaikan dengan ukuran sepatu biasa.

Nyari nyari di Bukalapak.com dan akhirnya nemu sepatu roda yang ditaksir kakak. Beli, transfer, sekitar tiga hari barang udah sampai rumah. Senengnya...

Tapi, ada yang nggak seneng di episode ini. Ada yang manyun sambil marah-marah. Trus kalau di deketin bilang begini,

"Sana...kakak jangan deket-deket aku. Aku kan nggak punya sepatu roda"

Sambil dorong-dorong kakaknya pergi.


Makin digodain makin ngamuk. Malah pakai adegan mewek segala. Hadewh...Akhirnya, mau nggak mau harus dibeliin juga. Ehm...nguras duit lagi deh...

Waktu dibilangin kalau dia mau dibeliin sepatu roda, dia langsung ambil tablet trus milih-milih sendiri warnanya di bukalapak. Dibantuin kakaknya tentunya. Emaknya cuma disuruh ngecek trus transfer:). Gampaaaaang bangeeeet.

Tapi pemesanan yang kedua itu agak lama, balas sms nya lama, kirimnya juga lama. Emang beda penjual dengan yang kemarin dipesan kakak. Karena di toko yang kemaren ukuran dan warna yang bira sukai stoknya lagi kosong.

Tiga hari berikutnya barang datang dianterin sama mas JNE. Waktu sepatu rodanya dateng, bira senengnya udah nggak ketulungan. Teriak-teriak pamer sana sini. Padahal, cuma dipakai doang trus duduk duduk nggak mau berdiri apalagi jalan.

Untuk pemula yang emang nol banget, katanya pakai karpet dulu buat belajar berdiri. Jadilah karpet yang udah lama dimuseumkan itu digelar lagi di rumah. Tapi meskipun pakai karpet, tetep aja bira nggak bisa berdiri sendiri. Harus dipegangin, ditutun sana sini. Ini nih...yang bikin kerjaan tambah banyak. Jadi mintanya dituntun terus, emaknya nggak boleh ngapa-ngapain.

Berhubung masih pemula banget, dianya main juga masih grogi, kebanyakan jatuhnya dari pada jalannya. Belum lagi kalau rodanya ngegiles kaki yang nuntun, jadi pengen diambrukin gitua aja nggak mau pegangin.

Saking keselnya, saya bilang ke dia,

"Udah deh, dek...bunda males megangin. Lha kamu masih jatuh-jatuh terus. Ngeriii..."

Bocahnya langsung cemberut. Pengennya berdiri, trus jalan. Tapi apa daya, tiap berdiri badannya goyang-goyang kehilangan keseimbangan. Padahal cuma tak suruh belajar berdiri doang lho...

Sampai akhirnya, saya sok-sok an kasih contoh pakai sepatu roda kakaknya. Untungnya bisa muat di kaki. Tapi...ternyata, apa yang saya alami tidak semudah apa yang saya lihat. Jangankan jalan, mau berdiri aja susah. Merangkak-rangkak tetap saja tidak bisa berdiri. Pegangan tembok malah ngeri, pegangan kursi apalagi...Sepuluh menit lamanya, saya masih belum berhasil berdiri sendiri. Malah ngakak-ngakak nggak karuan liat badan saya guling sana guling sini nyari cara buat berdiri. Kalau pegangan sama bira takut ambruk bareng. Sampai akhirnya saya lelah dan mulai nyerah nglepas sepatunya lagi. huuffft...

Sambil cekikikan, bira bilang begini,

"Tuh kan, bunda aja nggak bisa"

Seharian, sepatu roda bira dianggurin gitu aja. Pengen makai tapi malah ngribetin. Kerjaan rumah jadi nggak kelar-kelar.

Setelah ayahnya pulang, baru deh rem belakangnya ditambahin. Sepatu rodanya dijadiin roda dua di belakang kayak gini,





Jadi nggak inline lagi kayak kakaknya. Lumayan membantu, meskipun tetap harus dipegangin. Setidaknya dia bisa berdiri sendiri di atas karpet. Dan karpet berubah jadi lintasan sepatu roda di rumah.

Dapat pelajaran baru, bahwa apa yang kita lihat gampang belum tentu gampang juga kita melakukannya.

Liat orang gampang bikin kue, trus ngomong,

"Ah, bikin kue gitu doang...keciiiil"

Padahal, kalau kita nyoba bikin sendiri hasilnya kadang nggak seperti yang diharapkan.

Liat orang pinter nulis, trus nyinyir ngomong,

"Ah...nulis gitu doang, gue juga bisa..."

Padahal, kalau disuruh nulis belum tentu juga bisa sehalaman:D

Liat orang pandai berdagang, trus komentar,

"Ah, dagang gitu doang...aku juga sanggup"

Padahal, kalau kita yang ngelakuin sendiri belum tentu secerdas dia dalam menarik konsumen.

Dan lain-lainnya...terlihat gampang tapi belum tentu segampang yang kita pikirkan.

Catat itu...!

Komentar

  1. Ah ini salah satu alat yg nggak pernah bisa. Dari mulai sepatu roda yg berntuknya benar2 roda kyk punya Ira Maya Sopha smp yg blade cuma punya2an aja, nggak bisa makenya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

terima kasih sudah komentar di blog ini. komentar insya Allah akan saya balas. Atau kunjungan balik ke blognya masing masing :)

Postingan populer dari blog ini

Jalan-Jalan Nikmat di Kampung Turis

Waktu pertama kali dengar nama kampung turis, bayangan yang terlintas di benak adalah sebuah kampung yang banyak turisnya. Atau...sebuah tempat yang isinya menjual aneka jajanan berbau asing. Kayak di kampung cina, yang isinya macam-macam barang yang berbau kecinaan. Tapi ternyata saya salah. Kampung turis ternyata sebuah resto(tempat makan), tempat ngumpul bareng, tempat renang, tempat main anak, sekaligus tempat nginep. Bahasa gaulnya, Resort and Waterpark. Kampung Turis berlokasi di Kp. Parakan, desa Mekar Buana, kecamatan Tegal Waru-Loji, kab Karawang, Jawa barat. Jadi ceritanya, minggu pagi itu rencananya kami sekeluarga mau ke curug Cigentis. Di daerah Loji juga. Tapi berhubung pagi itu, saat mau berangkat mobil ngambek jadilah kami nunggu mobil pulang dari bengkel. Pulang dari bengkel sudah jam 11 siang. Kalau nggak jadi berangkat rasanya galau banget, kalau berangkat sepertinya tidak memungkinkan karena perjalanan dari rumah ke Loji saja sudah 2 jam. Kalau mau nekat ke curu

Tips Agar Kursus Online Bisa Efektif Ala Bunda Sha

Foto: www.pexel.com Akhir-akhirini, di media sosial banyak sekali kursus online. Kursus memasak, kursus menulis, kursus buat ini itu. Banyak sekali. Kursus-kursus itu juga dibanderol dengan harga yang cukup menggiurkan. Terjangkau banget untuk emak-emak seperti saya yang males keluar ikut kursus di luaran sana. Salah satu hal yang paling saya sukai ikut kursus online itu, nggak harus pergi-pergi, nggak harus macet-macetan, nggak harus ngatur gimana waktunya antara anak dan keluarga. Cukup duduk di rumah saja dapet ilmunya. Meskipun begitu, saya tetep harus memperhitungkan banyak hal dong ya, biar kursusnya tetep jadi ilmu yang bermanfaat nggak asal nyomot kursus. Dua bulanan ini, saya lagi ngebut ikut kursus. Selain karena butuh, juga karena harganya yang lagi murah meriah. Nah, sebelum memutuskan ikut kursus, biasanya saya mempertimbangkan dulu hal-hal di bawah ini: Kursus online yang sesuai passion Namanya juga emak-emak haus ilmu, kadang denger ada obralan kursus ya

Apa Itu Blogwalking?

Foto: www.Auliatravelmedan.com Bagi blogger yang sudah lama terjun di dunia blog, blogwalking tentu bukanlah hal yang asing lagi. Tapi bagi para blogger pemula, blogwalking adalah sesuatu hal yang baru. Sampai-sampai, kadang pada bingung. Bogwalking itu ngapain aja sih? Blogwalking bagi sebagian para blogging sering disebut dengan istilah BW. Adalah salah satu aktivitas seorang blogger berkunjung ke blog lain dengan tujuan untuk menjalin silaturahmi sekaligus sebagai ajang perkenalan untuk blognya. Jadi blogwalking itu baca postingan di blog orang lain trus komentar gitulah, intinya. Kenapa harus komentar? Ya biar pemilik blog yang kita kunjungi tau, siapa saja para pengunjung blognya. Blog siapa saja yang sudah beerduyun-duyun datang ke "rumah"nya. Emang kalau nggak komentar kenapa? Kalau kita nggak komentar, tentu pemilik blog nggak akan tau kalau kita sudah berkunjung ke blognya. Karena biasanya, kalau kita komentar, link URL blog atau google p