Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2021

#catatanpandemi: Jeda

Sudah dua mingguan ini rasanya luar biasa. Nahan air mata jatuh, kecewa, marah, tapi bingung kenapa. Hampir tiap hari ada berita kematian, saudara sakit, tetangga sakit, semuanya berasa muram. Selama ini, hampir nggak pernah bisa curhat ke orang lain. Cuma sama suami. Itupun sekarang suami udah nggak bisa lagi diajak cerita. Nggak kayak biasanya yang bisa berdua doang di kamar. Bebas cerita apa saja. Sekarang cerita nggak bisa sebebas dulu. Pasti di sebelah ada temennya. Saya seperti nggak punya ruang pribadi. Nggak bisa melepaskan semua sesak di hati. Dalam kondisi seperti saat ini, sungguh rasanya seperti orang gila. Ketemu orang nggak bisa sebebas dulu, mau cerita ke temen pada sakit. Setiap hari, cuma bisa minta belas kasihan dari Allah... "Yaa Allah...di dunia ini rasanya aku cuma sendiri. Kasihani aku...nggak punya siapa-siapa. Siapa lagi yang bisa menolong selain Engkau. Siapa lagi yang mau mendengar kalau bukan Engkau" Kalau udah gitu, langsung mewek. Rasanya bener-be

Kisah Si Kucing Yatim

Gambar
Tok...tok...tok...buuuuk...minta makan.. Kami menamakan kucing ini kucing yatim. Karena dia nggak tau asal usulnya darimana. Tau-tau di depan rumah sendirian.  Kemarin waktu baru dateng, badannya kecil banget, matanya belekan, bulunya semrawut. Tiap dideketin selalu ketakutan, trus lari ke rumah kosong dekat rumah. Dia sendirian. Tiap malem kedengeran dia nangis. Meong meong...mungkin nyariin induknya. Karena kayaknya dia masih nyusu. Buat orang lain, mungkin nggak ngeh. Atau malah bahkan nggak denger suara kucing nangis. Tapi buat kami, suara meong nya menyayat hati. Tiap kucing-kucing di rumah makan, si Anak yatim ini selalu ngelihatin di pojokan pagar. Diminta mendekat nggak mau, dideketin lari. Kalau lari sampai kepleset-pleset saking paniknya. Tapi tiap kami bubar, kucing-kucing sudah selesai makan dan kami masuk, dia datang mengendus-endus bekas makanannya. Dari jendela, kami sering mengintip dia makan sisa-sisa makanan kucing di rumah. Akhirnya, anak-anak punya inisiatif buat na

Kisah Sepasang Sandal Jepit

Gambar
Gambar: www.cepatparamex.com Karena saking lamanya kami lockdown, Saya baru tau kalau ternyata sandal Shabira Udah nggak muat sama sekali. Mana itu sandal satu-satunya. Tau-tau udah nggak bisa kepake gitu aja. Pas mau keluar, bingung sandalnya kesempitan semua. Makanya, kami pun meniatkan diri untuk beli sandal baru buat dia. Siap-siap lah kami nge-mall buat sandal baru. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saya ngecek in satu-satu sepatu mereka. Daaaan...ternyata Shabira pake sandal jepit butut yang sering dia tinggal di sekolahan buat wudhu. Alhasil, saya langsung panik.  "Lha kok bisa pergi nge mall pake sandal jepit?" Kataku. "Lha kan kita mau beli sandal baru..." Kata Shabira enteng saja. Gak ada wajah sedih, malu atau gimana. "Tapi kan, malu kalau dilihatin orang. Masa semua pake sepatu, kamu sendiri yang pake sendal jepit?" Mendengar ucapanku, tiba-tiba wajahnya berubah kalut, cemberut, ikutan panik. Rasa percaya dirinya langsung memudar. Saya terdiam. M